Profil Mentari

Latar Belakang

Berawal dari kepedulian terhadap pembinaan generasi muda, dibentuklah kelompok-kelompok pengajian remaja pada tahun 2000. Program yang dilakukan dititik beratkan pada pembinaan keagamaan yang dilakukan secara berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan tenaga pembina yang seadanya. Kelompok yang kemudian diberi nama Merajut Hati Tebarkan Peduli (MENTARI).

Dalam perkembangannya, bentuk perhatian tersebut mengalami peningkatan/perluasan address. Selain memberikan kegiatan berupa pengajian bagi anak-anak, diberikan pula bimbingan belajar dan bantuan/subsidi uang bayaran/SPP mereka disekolah formal. Dana yang diberikan kepada anak-anak tersebut bersumber dari orang-orang dermawan, yang sesekali berbagi kelebihan rezeki serta menyalurkan infaqnya melalui MENTARI.

Namun demikian, donasi yang disampaikan para dermawan tersebut masih sangat terbatas. Selain jumlahnya yang belum mencukupi dari yang dibutuhkan, juga frekuensinya jarang, mengakibatkan donasi tersebut hanya bisa digunakan untuk membantu SPP beberapa orang siswa saja. Itupun MENTARI belum dapat membayarkan SPP secara penuh, namun hanya sekedar meringankan pembayaran SPP yang dirasa sangat berat oleh para siswa.

Selayang Pandang

Pada awalnya MENTARI dikelola oleh beberapa remaja yang peduli akan masa depan anak-anak yatim dan dhu’afa, MENTARI lebih memberikan perhatian pada kondisi pendidikan anak-anak yatim dan dhu’afa yang terancam putus sekolah serta pembinaan keagamaan yang merupakan pondasi sempurnanya akhlaq generasi muda, karena anak-anak merupakan asset terbesar kemajuan bangsa dan agama.

Dalam perkembangannya, melihat banyaknya siswa yang dibina serta luasnya bentuk binaan oleh MENTARI terutama dalam hal membantu mencarikan dana untuk biaya sekolah mereka, menyebabkan munculnya concern dari pihak-pihak lain yang kemudian berangkat dari niat tulus para pihak yang memiliki concern tersebut, bersinergi membentuk kepengurusan MENTARI. Kepengurusan dibentuk guna meningkatkan pembinaan terhadap anak-anak yang merupakan para siswa rawan putus sekolah. Hingga saat ini, anak yang terdaftar dan dalam pembinaan MENTARI berjumlah 100 anak. Hal yang cukup memprihatinkan adalah, hingga saat ini MENTARI belum mempunyai donator tetap.

Sebagian besar anak-anak siswa binaan MENTARI adalah kaum dhu’afa. Meskipun mereka memiliki orang tua yang lengkap, namun kondisi mereka menyebabkan perlunya pihak lain untuk dapat memberikan bantuan kepda mereka. Sebagian besar dari orang tua (ayah) mereka merupakan buruh harian mulai dari buruh/kuli pasar, buruh bangunan, pengangkut sampah, penjual air bersih(menggunakan gerobak), tukang ojek hingga yang menganggur karena sulitnya mendapatkan pekerjaan atau ada juga yang sakit parah dalam waktu yang cukup lama, sehingga tidak dapat lagi mencari nafkah. Sementara si ibu selain berperan sebagai ibu rumah tangga kebanyakan juga menjadi buruh cuci di lingkungan sekitarnya guna mendapatkan imbalan dan sekedar bertahan hidup.

Untuk dapat membantu mereka, kami mengajak semua pihak yang bersedia menyisihkan sebagian rezekinya mengulurkan tangan, terutama guna kelangsungan pendidikan mereka.